Newest Post

// Posted by :moria // On :Rabu, 25 Agustus 2010

Ilustrasi: buka puasa bersama

Segala sesuatu itu ada tingkatannya. Anak tangga yang kita pijaki misalnya, ada yang berada di bawah, menengah, dan semakin meninggi hingga mencapai puncaknya. Atau seperti halnya timbangan, ada yang ringan, sedang, dan ada pula yang berat. Begitu pun dengan puasa yang sedang kita laksanakan ada tingkatannya.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin membagi puasa dalam tiga tingkatan sebagai berikut:

  1. Puasanya Orang Awam
    Tingkat puasa seperti ini adalah puasanya orang awam yang menahan perut dari makan dan minum, menahan dari memperturutkan syahwatnya, serta meninggalkan segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.
  2. Puasanya Orang Khawas
    Tingkat puasanya orang khusus adalah menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari melakukan berbagai dosa, di samping meninggalkan semua perkara sebagaimana yang dilakukan oleh orang awam di atas.
    Puasa ini menjadi sempurna dengan enam hal, antara lain:
    Pertama
    , menundukkan pandangan dan menahannya dari setiap hal yang tercela dan dibenci, juga setiap hal yang dapat mengganggu hati serta melalaikan dari mengingat Allah. Rasulullah SAW bersabda, Pandangan adalah anak panah beracun di antara anak panah iblis, semoga Allah melaknatinya. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan kepadanya rasa manisnya keimanan dalam hatinya. (HR. Al-Hakim)
    Kedua
    , menjaga lisan untuk tidak membicarakan hal-hal yang tidak karuan, dusta, ghibah, namimah (mengadu domba atau memfitnah), kekejian, perkataan kasar, pertengkaran dan perdebatan, serta mengharuskan diam kepadanya dan menyibukkannya dengan dzikir kepada Allah dan membaca Al-Qur’an. Inilah puasa lisan. Rasulullah SAW bersabda, Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan selalu melakukannya, maka Allah tidak akan mempedulikan puasanya itu, di mana ia telah susah payah meninggalkan makan dan minum.(HR. Al-Bukhari)
    Ketiga,
    menahan pendengaran dari menyimak segala yang dibenci karena segala sesuatu yang haram diucapkan, haram pula untuk disimak. Oleh karena itu, Allah tidak membedakan antara orang yang mendengarkan hal-hal yang haram untuk disimak dengan orang yang memakan barang haram. Allah SWT berfirman, Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. (QS. Al-Ma’idah [5]: 42)
    Keempat, menahan anggota tubuh yang lain dari berbagai perbuatan dosa. Menahan kaki dan tangan dari berbagai perbuatan yang dibenci dan menahan perut dari memakan barang syubhat bahkan haram pada saat berbuka puasa.
    Kelima,
    tidak memakan makanan yang halal secara berlebihan pada saat berbuka puasa. Tidak ada tempat yang paling dibenci Allah selain perut yang penuh dengan makanan halal. Bagaimana puasa itu akan berfungsi untuk menundukkan nafsu syahwat apabila orang yang berpuasa tersebut pada saat berbuka melahap semua makanan yang ada.
    Keenam, hendaknya setelah berbuka, hatinya tertambat dan terguncang di antara cemas dan harap, karena ia tidak mengetahui apakah puasanya seharian itu diterima atau tidak. Juga apakah ia termasuk orang-orang yang didekatkan kepada Allah atau tertolak.
  3. Puasanya Orang Khawasul Khawas
    Tingkat puasanya orang yang paling khusus adalah puasa hati dari berbagai ambisi yang hina dan pikiran-pikiran duniawi serta menahan hati dari segala sesuatu selain Allah secara total. Puasa ini bisa batal karena memikirkan segala sesuatu selain Allah, hari akhir, dan memikirkan dunia, kecuali dunia yang dimaksudkan untuk agama karena hal itu merupakan bekal menuju akhirat dan tidak lagi disebut dunia. Tingkatan ini merupakan tingkatan para nabi, shiddiqin, dan orang-orang yang dekat kepada Allah. Puasa pada tingkatan ini adalah menghadap dengan sepenuh tekad kepada Allah, dan berpaling dari selain-Nya.
Wallahu a‘lam.

Leave a Reply

Silahkan Bersuara

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

// Copyright © MONE - Zone: Tingkatan Orang Berpuasa//Powered by Blogger//